| Menurut Yusuf al-Qardhawi di dalam bukunya "Dirâsah fî Fiqh Maqâshid as-Syarî'ah: Bayn al-Maqâshid al-Kulliyah wa an-Nushûs al-Juz`iyah", Neo-Dzahiriyah ini terbagi menjadi beberapa kelompok. Di antaranya ada yang cenderung bernuansa agamis seperti kelompok Salafi dan di antaranya lagi lebih bernuansa politis seperti Hizbuttahrir (HT), tetapi semua itu masih dengan ciri-ciri yang sama; pemahaman tekstual (harfiyah al-fahm). Hanya bertumpu pada pemahaman tekstual terhadap teks-teks suci agama bukanlah pilihan satu-satunya yang tepat, karena bagaimanapun juga turunnya sejumlah ayat al-Qur`an tak lepas dari penyebab yang mengiringinya yang kita kenal dengan istilah "Asbâb an-Nuzûl". Demikian pula dengan hadits, sejumlah hadits juga tak lepas dari penyebab yang mengiringinya yang kita kenal dengan nama "Asbâb al-Wurûd". Bahkan hanya bertumpu pada makna literal teks berpotensi melahirkan pemahaman dan penafsiran yang salah. Wilayah bersih memori dan ingatan para nabi adalah suci dari terlaburi kebusukan-kebususkan lontaran dan hembusan setani; sebab iblis tidak mempunyai kemampuan merasuk ke dalam harîm muqaddas (wilayah suci) qalbu mereka. Pancaran sempurna ishmah dan kesucian meliputi dan menyelimuti hati-hati mereka dan puncak yang tinggi serta sinaran akal mereka tidak tergapai dan terjangkau oleh wâhimah (imaginative) dan khayalan-khayalan setani;Sedangkan Wilayah bersih memori manusia tentu sebaliknya terlaburi kebusukan lontaran dan hembusan setani; sebab itu iblis mempunyai kemampuan merasuk ke dalam harîm muqaddas (wilayah suci) qalbu manusia kerena itu tidak bersih dari dosa. Sehingga manusia ketika menerima teks atau dalil dari wahyu tidak akan bisa menangkap seluruh aspek dengan tepat seperti yang diisyaratkan oleh wahyu persis seperti Nabi. Manusia hanya mendapat simbol simbol dari wahyu itu saja. Maka tepat kiranya bila kita lebih bijaksana bila dalam berpendapat, dengan mengatakan "ini pendapat pribadi yang tidak lepas dari kesalahan sesuai ilmu atau dalil yang saya dapat dari anu dan anu" .Jangan sampai kita mengatakan ini adalah dalil yang saya dapat,seakan akan tuhan memberikan dalil itu langsung turun kepada kita yang penuh dengan khilaf ini. Tulisan ini bukan untuk mencap sebuah golongan, mohon maaf bila ada yang tidak berkenan
http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/07/07/neo-dzahiriyah/ Akhir-akhir ini kita sering mendengar, membaca, dan berdiskusi tentang Neo-Khawarij, yaitu sebuah sekte Islam yang merupakan wajah baru dari Khawarij yang muncul pada masa-masa awal Islam. Menurut Musthafa as-Syak'ah di dalam bukunya "Islâm bilâ Madzâhib", sekte ini pertama kali dipimpin oleh Abdullah bin Wahb ar-Rasibi dan pertama kali dikenal dengan nama "al-Muhakkimah al-Ula". Sekte ini sering diidentikkan dengan pengkafiran terhadap pihak yang berbeda pendapat dengan mereka. Sebagaimana Khawarij identik dengan penghalalan darah pihak yang berbeda pendapat dari kalangan umat Islam sendiri, Neo-Khawarij yang ada sekarang juga diidentikkan dengan pembolehan menggunakan kekerasan atas nama agama terhadap pihak yang berbeda pandangan dan pengamalan atas sejumlah doktrin Islam. Yang tak kalah pentingnya dari sekte ini adalah apa yang kita sebut dengan Neo-Dzahiriyah (ad-dzahiriyah al-judud) yang mempunyai kesamaan dengan Khawarij dalam beberapa hal. Madzhab ini merupakan wajah baru dari madzhab Dzahiriyah yang digagas oleh Dawud bin Ali al-Asfihani (202-270 H) yang selain dikenal hanya cukup memahami dan menafsirkan teks-teks partikular agama berdasarkan dzahirnya saja, mereka juga diidentikkan dengan pola pikir yang saklek. Lebih dari itu, mereka mengingkari adanya hikmah dan tujuan (maqashid) di balik teks; menolak istihsan, sadz ad-Dzara`i', al-Mashalih al-Mursalah; mereka juga menolak keabsahan pengunaan qiyas yang benar dalam menentukan suatu hukum karena ia akan membuka ruang ijtihad (Rasyad Hasan Khalil, Târîkh at-Tasyrî' al-Islâmî: Adwâr Tathawwurihi, Mashâdiruhu, Madzâhibuhu al-Fiqhiyah, 2002). Intinya, mereka mendewakan makna literal teks dan menolak semua metode penalaran manusia terhadapnya berikut hasilnya. Meskipun Neo-Dzahiriyah merupakan wajah baru dari madzhab Dzahiriyah yang pernah dikembangkan oleh Ibnu Hazm al-Andalusi (384-456 H), tetapi ada perbedaan fundamental antara keduanya. Perbedaan ini terletak pada tidak adanya kecakapan ilmu seperti yang dimiliki oleh para pengikut madzhab Dzahiriyah terdahulu pada diri Neo-Dzahiriyah, terutama pada pengetahuan tentang teks-teks al-Qur`an, hadits, dan atsar. Menurut Yusuf al-Qardhawi di dalam bukunya "Dirâsah fî Fiqh Maqâshid as-Syarî'ah: Bayn al-Maqâshid al-Kulliyah wa an-Nushûs al-Juz`iyah", Neo-Dzahiriyah ini terbagi menjadi beberapa kelompok. Di antaranya ada yang cenderung bernuansa agamis seperti kelompok Salafi dan di antaranya lagi lebih bernuansa politis seperti Hizbuttahrir (HT), tetapi semua itu masih dengan ciri-ciri yang sama; pemahaman tekstual (harfiyah al-fahm). Hanya bertumpu pada pemahaman tekstual terhadap teks-teks suci agama bukanlah pilihan satu-satunya yang tepat, karena bagaimanapun juga turunnya sejumlah ayat al-Qur`an tak lepas dari penyebab yang mengiringinya yang kita kenal dengan istilah "Asbâb an-Nuzûl". Demikian pula dengan hadits, sejumlah hadits juga tak lepas dari penyebab yang mengiringinya yang kita kenal dengan nama "Asbâb al-Wurûd". Bahkan hanya bertumpu pada makna literal teks berpotensi melahirkan pemahaman dan penafsiran yang salah. Itulah ciri utama Neo-Dzahiriyah yang melahirkan penafsiran-penafsiran dangkal terhadap doktrin Islam. Di antaranya adalah sikap mereka terhadap kaum hawa yang hanya berkutat pada dapur dan kasur, dan penolakan mereka terhadap sesuatu yang datang dari pihak non-Islam. Oleh karena itu, tak jarang yang berasal dari mereka terutama Barat seperti demokrasi dicap sebagai barang haram yang wajib ditinggalkan. Mereka terbuai dengan kehidupan abad ke-7 sehingga mereka lupa bahwa sebenarnya mereka hidup di abad 21 yang mana hampir semua hal telah berubah. Masih menurut Yusuf al-Qardhawi, selain berlebihan terhadap makna literal teks mereka juga merasa lebih enak dengan pendapat-pendapat yang memberatkan dibanding yang memudahkan; pendapat mereka paling dan pasti benar sementara pendapat yang berbeda pasti salah dan mereka pasti menolaknya; mencela pihak yang berseberangan dengan mereka dengan celaan berlebihan seperti mengatakan mereka bid'ah, fasik, dan kafir. Beda tempat dan waktu, beda pula penyikapannya Di Indonesia, dengan ciri-ciri yang dipaparkan Yusuf al-Qardawi di atas, kita bisa menemukan Neo-Dzahiriyah ini. Biasanya hanya berbekal sedikit ayat dan hadits, dengan memekikkan takbir mereka kerap dengan lantang menyalahkan pihak yang bersilang pendapat dengan mereka, cacian dan label sesat bahkan vonis kafirpun terhadap sesama umat Islam mereka lakukan. Ada dugaan kuat bahwa tindakan-tindakan mereka lahir dari kesalahan pemahaman mereka terhadap doktrin Islam. Kesalahan ini lebih disebabkan oleh minimnya pengetahuan mereka terhadap tradisi Indonesia yang sangat berbeda dengan tradisi Arab abad ke-7. Perbedaan inilah yang luput dari jangkauan mereka, apalagi secara sosiologis dan antropologis kelompok Salafi dan Hizbuttahrir (HT), yang oleh Yusuf al-Qardhawi dimasukkan ke dalam Neo-Dzahiriyah, tak memiliki akar tradisi yang kuat di Indonesia. Seakan-akan ber-islam yang benar adalah mengcopy-paste seluruh doktrin Islam yang tertuang di dalam al-Qur`an, hadits, dan pendapat-pendapat ulama terdahulu ke dalam kehidupan nyata di sebuah tempat yang mempunyai sejarah dan tradisi yang berbeda. Ironinya, tak sedikit dari mereka yang belum menyadari bahwa pendapat-pendapat tersebut tak bisa dilepaskan dari tradisi yang melingkupi pribadi masing-masing ulama yang mesti direkontekstualisasikan. |
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment