Wednesday, February 9, 2011

RE: [Milis_Iqra] Akal dan hati + logika was Pemuda Muhammadiyah:UsutPenyerang Ahmadiyah

 

From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On Behalf Of whe.en9999@gmail.com

 

Saya bukan lagi memakai perasaan mas Dani, logikanya kalau pertanyaan salah koq dijawab, jawabannya tetep ga nyambung.
Jika soal salah, maka soal tersebut gugur, tidak ada jawaban yang tepat.

Jadi buat apa mas dani buang buang waktu menjawab pertanyaan saya yang keliru.
Karena sayapun tidak membaca jawabannya begitu tahu pertanyaan saya salah.

 

[Dani Permana]  J J engga buang-bunag waktu koq, jika melaksanakan sesuatu dengan ikhlas, lagipula saya hanya ingin share yang saya ketahui dan hal itu bukan HANYA untuk M WN aja…


[On Behalf Of whe.en9999@gmail.com]
Bukankah sebaiknya waktu yang terbuang dipakai buat yang lebih berguna? Belajar mungkin, atau mengkaji hadits, atau tafsir atau baca apalah. Apalagi saya tahu mas Dani sibuk, sampai hampir jam 11 malam saja masih menjawab pertanyaan saya. Yang akhirnya saya baca entah kapan, karena pertanyaannya keliru.

 

[Dani Permana]  Memperbaiki sesuatu yang salah dan dipandang keliru adalah perbuatan berguna, seperti kata M WN sendiri yang sudah mengkoreksi kesalahan seseorang dengan berkata “Mohon maaf jika saya mengoreksi pendapat bapak, setahu saya tidak semua rakyat Indonesia tumpul dan berebut kekuasaan” lah kalau orang M WN yang dikoreksi koq ga mau.. ?

 

[On Behalf Of whe.en9999@gmail.com]
Yang saya lakukan ketika pertanyaan keliru adalah meminta pertanyaannya dibetulkan dulu, biar nyambung dengan jawaban, itu yang saya minta ke mas Nandang karena saya merasa pertanyaannya belum pas di threads Ahmadiyah soal penyerangan dan murtad. Bukannya memaksa menjawab pertanyaan yang keliru.

 

[Dani Permana] jiahhhh Itukan W WN, masa semua orang harus disamakan ???? J



Regards
Whe-en

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: Dani Permana <adanipermana@gmail.com>

Sender: milis_iqra@googlegroups.com

Date: Tue, 8 Feb 2011 22:35:08 +0700

To: <milis_iqra@googlegroups.com>

ReplyTo: milis_iqra@googlegroups.com

Subject: RE: [Milis_Iqra] Akal dan hati + logika was Pemuda Muhammadiyah: UsutPenyerang Ahmadiyah

 

(WN) , namun jika menganggap pertanyaannya keliru ya ga usah dijawab.

(Dani) coba m WN fikirkan, apakah pertanyaan M WN sudah benar? Kalau ada seseorang yang memandang keliru seharusnya berfikir bukan perasaan yang didahulukan.


Thanks,
Dani Permana
Sent from my Windows Mobile® phone


From: whe.en9999@gmail.com
Sent: Tuesday, February 08, 2011 10:07 PM
To: milis_iqra@googlegroups.com
Subject: Re: [Milis_Iqra] Akal dan hati + logika was Pemuda Muhammadiyah: UsutPenyerang Ahmadiyah

Mas Dani,
Sebenarnya saya sangat ingin mengucapkan terimakasih karena berkenan menjawab pertanyaan saya, namun jika menganggap pertanyaannya keliru ya ga usah dijawab.

Mohon maaf jika terpaksa menulis demikian, saya cape bersikap tidak profesional terus mengikuti attitude diskusi yang aneh.

Regards
Whe-en

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: Dani Permana <adanipermana@gmail.com>

Sender: milis_iqra@googlegroups.com

Date: Tue, 8 Feb 2011 21:40:56 +0700

To: milis_iqra<Milis_Iqra@googlegroups.com>

ReplyTo: milis_iqra@googlegroups.com

Subject: Re: [Milis_Iqra] Akal dan hati + logika was Pemuda Muhammadiyah: Usut Penyerang Ahmadiyah

 

[Wheen]

Mas dani,
sebelum membenturkan logikanya mas awung, jangan lupa pertanyaan saya soal wahyu qauliyah dan kauniyah ya.
kan ada hubungannya? biar tahu kapan menggunakan ilmu kapan menggunakan akal, kapan menggunakan logika.

[Danii]

Sebenarnya kalau pertanyaannya "kapan menggunakan ilmu kapan menggunakan akal, kapan menggunakan logika." saya pandang keliru, karena ilmu itu diperoleh dari hasil berfikir dan berfikir menggunakan akal, dan akal itu yang menuntun kepada pencarian sumber data awal, dan sumber data awal itu adalah wahyu, dan wahyu ada yang bersifat qauliyah maupun kauniyah. kemudian dari sumber data awal di olah untuk di kembangkan menjadi ilmu-ilmu lainnya. Jadi semuanya berinteregasi satu sama lainnya.... dalam sahih bukhori ada satu bab tentang berilmu sebelum berkata dan beramal, bagaimana kita akan berilmu jika kita tidak mengetahui sumber data awal yang bisa dijadikan panduan untuk memahami dan untuk memahami butuh akal.

Kembali ke logika... terkadang saya hanya tersenyum saja jika ada orang yang menggunakan logika namun tidak didasari dengan sumber data awal yang di kuasai, karena untuk memahami Al Qur'an dan juga hadist, dibutuhkan kaidah ilmu mantik (Logika) dan ilmu munasabat (korelasi antar ayat) dan dua ilmu ini ada dalam ulumul Qur'an. Jika dua hal tersebut kurang memahami maka yang akan terjadi - bisa benar namun sifatnya subjective atau zhan (sangkaan) - namun yang di kawatirkan adalah malah menyesatkan. Sebenarnya logika atas dua macam, namun keduanya tidak dapat dipisahkan, yaitu

a. Logika Kodratiah : Akal budi (pikiran) bekerja menurut hukum-hukum logika dengan cara spontan. Tetapi dalam hal-hal tertentu (biasanya dalam masalah yang sulit), akal budi manusia maupun seluruh diri manusia bisa dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subjektif. selain itu, perkembangan pengetahuan manusia sendiri sangat terbatas. Hal-hal ini menyebabkan kesesatan tidak terhindarkan. Walaupun sebenarnya dalam diri manusia sendiri juga ada kebutuhan untuk menghindari kesesatan tersebut. Untuk menghindari kesesatan itulah, dibutuhkan ilmu khusus yang merumuskan azaz-azaz yang harus ditepati dalam setiap pemikiran, yaitu logika ilmiah.

b. Logika Ilmiah : Logika ini membantu logika kodratiah. Logika ilmiah memperhalus dan mempertajam akal budi, juga menolong agar akal budi bekerja lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Dengan demikian kesesatan dapat dihindarkan, atau minimal bisa dikurangi dengan kadar tertentu. Logika inilah, yang dimaksud mempunyai hukum-hukum atau azaz-azaz yang harus ditepati. Dalam penyelidikan hukum-hukum logika, dapat diuraikan bahwa pemikiran manusia terjadi tiga unsur. Yaitu pengertian-pengertian atau kata, kemudian kata atau pengetian itu disusun itu sedemikian tupa sehingga menjadi keputusan-keputusan. Akhirnya keputusan-keputusan itu disusun menjadi penyimpulan-penyimpulan.

Nah kesimpulan yang saya tangkap kebanyakan dari kita adalah sebatas mampu mengunakan logika Kodratiah... namun jika meloncat ke logika ilmiah biasanya enggan....

Berikut ada sedikit artikel yang mudah-mudahan membuat kita tidak harus menomorsatukan salah satu dari keduanya, yakni apakah wahyu dahulu atau akal dahulu atau vice versa? karena secara lahiriyah Allah sudah memberikan akal kepada manusia sebagai pembeda dengan makhluq lainnya, sebagaimana firman-Nya

Artinya:"Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan". (QS. Al Israa' [17]: 70)

 

Karena itu, maka tempat akal terletak dalam hati yang merupakan pusat penilaian bagi Allah subhanahu wa'ta'ala terhadap setiap gerak dan aktifitas manusia, sebagaimana Firman-Nya  : Artinya:" mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh)". (QS. Al A'raaf[7]: 179)

 


Dari Firman Allah al A'raf : 179 sudah jelas bahwa untuk memahami sesuatu juga dengan Hati, jadi yah kita kembalikan kepada artikel " Integrasikan Akal dan Hati!"

========================

PENGHORMATAN ISLAM PADA AKAL

A.    Definisi Akal

Akal (ÇáÚóÞúáõ) berasal dari akar kata (ÚóÞóáó-íóÚúÞöáõ-ÚóÞúáðÇ) yang asalnya bermakna mencegah (ÇáãóäúÚõ). Akal juga memiliki makna yang lain, diantaranya:

ü      (ÇáÍóÌúÑõ) : mencegah.

ü      (Çáäóøåúíõ)  : melarang.

ü      (ÇáÏöøíóøÉõ)   : tebusan.

Sedangkan menurut istilah, penggunaan akal mempunyai empat (4) makna:

1)   (ÇáÛóÑöíúÒöÉõ ÇáãõÏúÑößóÉõ : insting / naluri yang mampu merasa), yaitu naluri yang memiliki manusia untuk mengetahui dan memikirkan sesuatu, sama seperti kekuatan melihat pada mata dan kekuatan merasa pada lidah. Ia adalah obyek taklif (pembebanan ibadah) yang dapat membedakan manusia dengan hewan.

2)   (ÇáÚõáõæúãõ ÇáÖóøÑõæúÑöíóøÉõ : ilmu pasti / ekstra), yaitu ilmu yang di ketahui oleh seluruh orang berakal, seperti pengetahuan tentang hal yang mungkin, yang wajib dan lain-lain.

3)      (ÇáÚõáõæúãõ ÇáäóøÙóÑöíóøÉõ : ilmu-ilmu teoritis) yang diperoleh melalui penalaran dan pencarian data.

4)      Kerja-kerja yang berdasarkan ilmu.

Pengertian di atas dapat dirangkum dalam dua (2) makna:

a)      Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia.

b)      Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang.

Akal adalah instink yang diciptakan Alloh subhanahu wa'ta'ala kemudian diberimuatan kepemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Alloh subhanahu wa'ta'ala.

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:"Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan". (QS. Al Israa' [17]: 70)

Karena itu, maka tempat akal terletak dalam hati yang merupakan pusat penilaian bagi Alloh subhanahu wa'ta'ala terhadap setiap gerak dan aktifitas manusia.

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:" mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh)". (QS. Al A'raaf[7]: 179)

B.     Kedudukan Akal Dalam Syari'at Islam.

Syari'at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat penting dan tinggi terhadap akal manusia. Itu dapat dilihat dari point-point berikut:

1)      Alloh subhanahu wa'ta'ala hanya menyampaikan kalam-Nya (firman-Nya) kepada orang-orang yang berakal, karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syari'at-Nya.

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:"Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rohmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran". (QS. Shaad [38]: 43).

2)      Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk mendapat taklif (beban kewajiban) dari Alloh subhanahu wa'ta'ala. Hukum-hukum syari'at tidak berlaku bagi mereka yang tidak mempunyai akal. Dan diantaranya yang tidak menerima taklif itu adalah orang gila karena kehilangan akalnya.

Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallama bersabda:

"ÑõÝöÚó ÇáÞóáóãõ Úóäú ËóáóÇËò æóãöäúåóÇ : ÇáÌõäõæúäõ ÍóÊóøì íóÝöíúÞó"

"Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan, diantaranya: orang gila samapai dia kembali sadar (berakal)". (HR. Abu Daud: 472 dan Nasa'i: 6/156).

3)      Alloh subhanahu wa'ta'ala mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. Misalnya celaan Alloh subhanahu wa'ta'ala terhadap ahli neraka yang tidak menggunakan akalnya:

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:"Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS. 067. Al Mulk [67]: 10)

Dan Alloh subhanahu wa'ta'ala mencela orang-orang yang tidak mengikuti syari'at dan petunjuk Nabi-Nya.

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang Telah diturunkan Alloh," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. 002. Al Baqarah [2]: 170).

4)      Penyebutan begitu banyak proses dan aktivitas kepemikiran dalam Al-Qur'an, seperti tadabbur, tafakkur, ta'aquul dan lainnya. Seperti kalimat "La'allakum tafakkarun" (mudah-mudahan kalian berfikir) atau "Afalaa Ta'qiluun" (apakah kalian tidak berakal), atau "Afalaa Yatadabbarunal Qur'an" (apakah mereka tidak merenungi isi kandungan Al-Qur'an) dan lainnya.

5)      Al-Qur'an banyak menggunakan penalaran rasional. Misalnya ayat-ayat berikut ini:

Artinya:"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya". (QS. An Nisaa' [04]: 82)

Artinya:"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Alloh, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Alloh yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan". (QS. Al Anbiyaa' [21]: 22 )

Artinya:"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?". (QS. Ath Thuur [52]: 35 )

6)      Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fingsi akal.

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang Telah diturunkan Alloh," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. Al Baqarah [2]: 170)

Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran.

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:"Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Alloh, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Alloh petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal". (QS. Az Zumar [39]: 17-18)

7)      Alloh subhanahu wa'ta'ala menggunakan ayat kauniyah untuk membuktikaan adanya pencipta ayat kauniyah tersebut. Dan itu merupakan suatu proses berfikir (menggunakan akal) yang dibutuhkan untuk mengetahui adanya hubungan antara alam dan pencipta alam.

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:"Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah". (QS. Al Mulk [67]: 3-4)

C.    Pandangan  Para Ulama' Salaf Terhadap Akal.

Jalan yang ditempuh ulama' salaf adalah jalan pertengahan yang dipelopori oleh banyak ulama' besar, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan lainnya. Muatan pemikiran aliran secara ringkas dapat disebut sebagai berikut:

a.       Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami sesuatu yang bersifat global, tidak bersifat detail.

b.      Syari'at di dahulukan atas akal, karena syari'at itu ma'shum (terpelihara dari kesalahan) sedang akal tidak.

c.       Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan syari'at Islam.

d.      Yang benar dari hasil pemikiran akal itu adalah yang sesuai dengan syari'at Islam.

e.       Yang salah dari pemikiran akal itu adalah yang bertentangan dengan syari'at Islam.

f.        Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib, haram dan seterusnya) adalah hak mutlak syari'at Islam.

g.      Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum wahyu, walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan yang buruk.

h.      Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh syari'at.

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:"Dan kami tidak akan meng'azab sebelum kami mengutus seorang Rosul". (QS. Al Israa' [17]: 15)

i.        Hasil-hasil pemikiran akal yang bertentangan dengan syari'at adalah bathil.

j.        Hasil pemikiran sehat manusia yang bertentangan dengan syari'at bisa disebabkan oleh dua kemungkinan. Mungkin karena syubhat (kerancuan pemikiran), mungkin juga karena kelemahan dalil syari'at yang dibawakannya.

k.      Kadang-kadang terdapat muatan syari'at yang membungungkan akal, tetapi itu tidak berarti bertolak belakang atau bertentangan dengan akal.

l.        Kebolehan (halal) adalah hukum dasar segala sesuatu sebelum turunyya hukum syari'at.

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:"Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Alloh yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat." Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui.(QS. Al A'raaf [07]: 32)

m.    Janji surga dan ancaman nereka sepenuhnya ditentukan syari'at Islam.

n.      Orang-orang yang hidup pada masa antara Nabi Isa 'alaihi salaam dan Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wa sallama tidak boleh dihukumkan masuk surga atau neraka. Demikian juga orang-orang yang yang risalah Islam belum sampai kepada mereka. Tetapi sebagaimana yang dijelaskan rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallama dalam sebuah hadits shohih, di hari qiyamat nanti mereka akan di uji dengan mengirimkan Rosul kepada mereka, jika mereka beriman mereka akan masuk surga, jika mereka kafir maka mereka akan masuk neraka.

o.      Tidak ada kewajiban tertentu bagi Alloh subhanahu wa'ta'ala yang ditentukan oleh akal kita kepada-Nya. Karena Alloh subhanahu wa'ta'ala mengatakan tentang dirinya.

Alloh subhanahu wa'ta'ala berfirman:

Artinya:"Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya". (QS. 085. Al Buruuj [[85]: 16).

Hukum wajib dan hukum harom yang berlaku atas diri Alloh subhanahu wa'ta'ala seperti dalam hadits berikut:

"Åöäöøíú ÍóÑóãúÊõ ÇáÙõøáúãó Úóáóì äóÝúÓöíú"

"Sesungguhnya telah aku haromkan kedzoliman atas diriku". (HR. Muslim)

"ÍóÞõø ÇáÚöÈóÇÏö Úóáóì Çááåö Ãóäú áóÇ íõÚóÐöøÈó ãóäú áóÇ íõÔúÑößõ Èöåö ÔóíúÆðÇ"

"Hak hamba terhadap Alloh ialah bahwa ia tidak akan mengadzab orang yang tidak mempersekutukannya dengan yang lain". (HR. Bukhori dan Muslim)

Dan hadits-hadits lainnya adalah hukum yang ditentukan sendiri oleh Alloh subhanahu wa'ta'ala atas diri-Nya sebagai suatu tanda keutamaan dan kemuliaan bagi-Nya.

p.      Akal adalah sumber hukum yang tidak berdiri sendiri. Dan wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah) tidak membutuhkannya lagi, sekalipun tidak menolak apa yang benar dari hukum akal.

Dari sini dapat dikatakan bahwa pendapat salaf adalah pendapat yang paling benar dalam masalah penggunaan akal sebagai dalil. Jadi, akal dapat dijadikan dalil jika ia sejalan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah atau tidak bertentangan dengan keduannya. Dan jika ia bertentangan dengan keduanya, Maka ia di anggap bertentangan dengan sumber dan dasarnya. Dan keruntuhan dasar adalah juga keruntuhan bangunan yang ada diatasnya. Sehingga akal menjadi dalil yang bathil.

D.    Sumber-Sumber Penentuan hukum Akal.

Dasar-dasar rasional penentuan hukum akal terdiri dari sejumlah sumber yang merupakan landasan stuktural pengetahuan manusia. Dimana tanpa landasan itu manusia tidak akan memperoleh hasil pengetahuan. Dasar-dasar itu adalah sebagai berikut:

1.      informasi dan pengetahuan yang diserap melalui pengalaman inderawi dengan panca indera.

2.     



[The entire original message is not included]


No virus found in this message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 10.0.1204 / Virus Database: 1435/3429 - Release Date: 02/07/11

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment