Sunday, September 18, 2011

[Milis_Iqra] Masyarakat Sakit

http://aceh.tribunnews.com/2011/09/15/masyarakat-sakit


Masyarakat Sakit

Kamis, 15 September 2011 17:09 WIB
Share |
large_kamaruzzaman.bustamam-ahmad_.jpg
Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad
Oleh Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad

MASYARAKAT Aceh saat ini sedang mengalami proses sakit sosial yang
amat parah. Sakit sosial ini tentu saja bukan diobati dengan obat yang
bisa sembuh dalam satu atau dua minggu. Sakit sosial ini disebabkan
karena dua hal yaitu adanya proses demoralisasi dan destabilisasi.
Demoralisasi ini adalah proses mencabut aspek dan nilai-nilai dalam
masyarakat, yang dilakukan secara tanpa sadar selama beberapa tahun
terakhir. Tentu saja proses ini telah berhasil mengikis fondasi
kehidupan rakyat Aceh.

Pertama yang dikikis adalah nilai-nilai adat istiadat, dari yang
bersifat hakikat ke simbolik semata. Makna dan substansi nilai-nilai
digantikan secara sistematis melalui proses internalisasi nilai-nilai
budaya yang sesungguhnya dibenci rakyat Aceh itu sendiri. Sekarang
kita membela sesuatu yang kita tidak sukai, tetapi kita jadikan
sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Proses internalisasi
budaya dari luar melalui non-adat istiadat adalah bentuk
ketidakramahan dalam berpikir sebagai orang Aceh.

Mengamalkan apa yang tidak sukai merupakan suatu kewajiban dalam
membina peradaban Aceh saat ini. Apa yang disukai baik oleh pikiran
dan perasaan menjadi sesuatu yang amat mahal sekali diamalkan. Hal
tersebut boleh jadi tidak ada lagi standar moral ketika proses
demoralisasi terjadi dalam masyarakat. Tingkat pengetahuan masyarakat,
bukan lagi diturunkan dari keluarga dan para urafa, melainkan
dipaksakan untuk menilai sendiri apa yang baik dan buruk.

Akibat tidak standar moral, orang baik dan jahat tidak jauh berbeda
air muka dan perangai kehidupannya. Terkadang orang senyum untuk
menutup kejahatan, sementara tidak sedikit yang berbuat jahat dengan
senyuman. Pola ini pada ujungnya mengakibatkan masyarakat hilang
kontrol. Inilah kekosongan yang diisi oleh standar moral atau perilaku
yang tidak baik. Masyarakat mengukur sesuatu bukan karena pengetahuan,
tetapi apa yang menjadi penerimaan dari standar moral dari luar nilai-
nilai kehidupannya.

Ketika proses demoralisasi dan tidak ada standar ideologi, maka
ideologi lain akan masuk ke dalam pikiran masyarakat. Karena mereka
tidak cukup pengetahuan untuk memahami fenomena sosial, propaganda
atau gagasan untuk menukar ideologi terjadi secara sistematik. Ketika
perubahan ini terjadi, maka masyarakat menjadi gamang. Ini sama dengan
perilaku habis azan magrib di TV swasta nasional, lalu muncul iklan
dan acara yang tidak mengajak orang untuk shalat. Artinya, orang
membaca doa, tetapi mata harus menikmati apa yang dibenci oleh doa itu
sendiri.

Adapun kedua yang terjadi adalah proses destabilisasi yaitu mencari
sekuat tenaga untuk menciptakan proses ketidakamanan di Aceh. Proses
ini sesungguhnya sedang dilakukan melalui adu domba. Dulu musuh
bersama rakyat Aceh, ketika dipropagandakan oleh GAM adalah Jawa. Saat
itu, ketika sudah tidak ada musuh bersama, maka proses destabilitasi
dilakukan dengan saling adu kekuatan di antara sesama orang Aceh
sendiri.

Saat tidak ada musuh bersama, maka siapa pun yang paling dekat ketika
berjuang boleh jadi saat ini menjadi musuh yang paling berbahaya.
Proses ini sebenarnya sangat wajar, di mana beberapa negara pernah
mengalaminya. Ini dikarenakan, pemerintah tidak mementingkan teori dan
pandangan ilmuwan dalam merekayasa mesin sosial atau fenomena sosial.
Sehingga ayunan pemerintah selalu bergoyang dan seolah harus
bermusuhan antara satu sama lain. Kalau tidak berdebat dan saling
menjegal adalah sesuatu tidak begitu indah dipandang mata. Dengan kata
lain, pemerintah gagal dalam menciptakan sebuah rekayasa sosial
masyarakat Aceh yang bertamaddun.

Sekarang, kedua proses ini sebenarnya sudah muncul dalam ilmu
propaganda, ketika ingin mengubah satu struktur masyarakat untuk
menuju kehancuran secara sistemik. Dulu, rakyat Aceh menelan mentah-
mentah propaganda anti-Jawa, anti-Indonesia, dan anti-Jakarta,
sehingga rakyat kecil dan besar rela korban perasaan dan angkat
senjata untuk mengusir Jawa dari Aceh. Setelah damai, propaganda
tersebut hilang, muncul propaganda lain yang ternyata lebih parah dari
anti-Jawa. Yaitu meluluhlantakkan struktur dan fondasi kehidupan
rakyat secara sistematis. Agama diformalkan, tetapi budaya beragama
dihilangkan. Lembaga adat ditumbuhkan, tetapi pengetahuan tentang
manfaat beradat diabaikan.

Alhasil, ujung dari proses ini adalah menciptakan ketidakstablisan
atau ketidakamanan di Aceh. Proses normalisasi melalui MoU dipandang
tidak begitu indah, karenanya perlu usaha untuk menciptakan krisis.
Uniknya, krisis yang muncul berasal dari orang Aceh sendiri. Sehingga
fenomena bahasa kekerasan menjadi potret kehidupan baru rakyat Aceh.
Marah tidak dikasih proyek, marah ketika disentil dalam ceramah agama,
legislatif dan eksekutif saling jegal, dan marah ketika tidak bisa
memarahi orang lain merupakan budaya baru dalam bahasa kekerasan di
Aceh. Kalau tidak marah seolah-olah hilang jatidiri ke-Aceh-annya.

Akibatnya, pola tasamuh (toleransi) dan meusyedara sudah tidak begitu
penting dalam masyarakat. Karena tidak ada konsep untuk merekayasa
sebuah masyarakat yang bertamaddun dan bermartabat, rakyat kemudian
menciptakan sendiri budaya-budaya untuk hanya menguntungkan diri
sendiri. Paradigma negatif tersebut sebenarnya sudah terjadi dalam
sepuluh tahun terakhir, karena pemerintah Aceh tidak memiliki konsep
secara subtantif. Konsep yang dimaksud adalah mengembangkan daya pikir
untuk kemajuan, tidak hanya pada pembangunan saja, tetapi juga tingkat
kecerdasan dan kemampuan rakyat dalam mempertahankan proses
demoralisasi di atas.

Sekadar perbandingan, proses pembangunan kecerdasan rakyat dilakukan
melalui budaya-budaya yang diproduksi oleh para endatu. Karena budaya
tersebut tidak diarahkan untuk menghancurkan sendi kehidupan rakyat,
maka ketika unsur-unsur budaya ini dibawa sebagai alat perjuangan,
yang terjadi adalah keinginan untuk mengamankan diri sendiri, bukan
demi kaum atau masyarakat Aceh secara keseluruhan. Di Aceh, ilmuwan
dan ulama sangat banyak sekali, namun mereka belum dianggap penting
untuk memroduksi pemikiran demi ke-Aceh-an.

Dalam sejarah gerakan sosial, tokoh-tokoh ilmuwan yang menggerakkan
mesin atau rekayasa sosial adalah mereka yang merasakan kaum atau
etniknya tertindas. Pertanyaannya, apakah saat ini Aceh sedang
tertindas? Kalau iya, siapa yang paling betanggungjawab dalam wujud
ketertindasan tersebut? Jawabannya adalah rakyat Aceh sudah lama
tertindas, namun abai dalam menciptakan mimpi untuk masa depan.
Sehingga mimpi yang ada hanya untuk mengamankan diri dan keluarga,
tanpa memikirkan etnik Aceh secara keseluruhan.

Artikel ini hanya berupaya mencari penyebab kecil dari sakit sosial
yang dialami rakyat Aceh. Tentu saja sakit sosial obatnya bukanlah
minum pil, melainkan memikirkan penyebab dan jalan keluar dari kemelut
ini. Jalan keluar bukanlah selalu menadah tangan pada asing atau
Jakarta--jika sudah tidak sanggup berdamai secara internal-- tetapi
mencari energi dan spirit positif untuk mengatakan, bahwa kita sebagai
sebuah etnik dan bangsa, harus mampu menyelesaikan masalah sendiri,
dengan mengedepankan kepentingan warisan endatu, ketimbang ambisi
pribadi untuk jangka pendek.

* Penulis adalah kontributor buku Kearifan Lokal di Laut Aceh.

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment