2010/6/15 whe - en <whe.en9999@gmail.com>Mas Arman,Saya cuma mengemukakan pandangan jika yang dipakai alasan adalah masalah Sunni dan Syiah.Dan saya-pun tidak mau hidup di angan angan, kenyataannya adalah memang perbedaan tersebut tidak bisa disatukan dan itu bukan masalah klasik.Itulah akar permasalahannya.Itulah intinya.
[Arman] : Tentu saja ini masalah klasik Mbak, ini sudah dari jaman "para tua" dulu selalu dipertentangkan dan dijadikan alasan untuk ribut dan bahkan lebih jauh perang yang menghasilkan korban jiwa. Padahal akar permasalahan mestinya bisa ditempatkan secara proporsional dan selayaknya. Tidak ada manusia maksum diluar para Nabi dan Rasul serta mereka-mereka yg disucikan Allah dalam surah Al-Ahzab 33 yang dalam kajian berbagai hadis yang diterima oleh semua kalangan mereka adalah Imam Ali beserta istrinya Sayyidah Fatimah beserta kedua putera mereka, Imam Hasan dan Imam Husain.
Para sahabat dan keturunan Rasul lainnya diluar itu bisa dibaca dalam surah Al-Baqarah ayat 124, bagaimanapun mereka hanyalah manusia biasa yang tidak terbebas sedikitpun dari salah-dosa dan khilaf sebagaimana manusia lain adanya. Inilah akar dari akar yang mesti kita pahami dan kita mengerti.
[Whe-en]
Jika Rizal memakai alasan lain, pasti pandangan saya juga lain selaras dengan apa yang dibicarakan,lha wong saya paling ga seneng jika muter2 dan tidak focus.jadi ini adalah salah satu pembahasan saja diantara sekian alasan yang bisa dibahas.Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat mahal harganya.Saya pribadi punya pandangan, jika seseorang tidak bisa dipersatukan karena Allah, bagaimana mungkin kita mempercayainya.Secara pribadi semua manusia punya salah, termasuk para shahabat, tetapi secara keseluruhan, shahabat tidak mungkin bersama sama berbohong semuanya.Bagaimana mungkin orang yang dihormati pihak lain dikafirkan oleh pihak lainnya lagi dan mereka dipaksa bersatu.Persatuan macam apa yang yang diharapkan.
[Arman] : Tidak semua sahabat bertindak salah, saya sepakat. Contoh paling nyata dan paling valid adalah kasus perang Uhud, dimana kisah ini diabadikan didalam al-Qur'an ketika Rasul memerintah para sahabatnya untuk tetap diam dan mematuhinya, mereka malah sibuk berebut mengambil rampasan perang dan menolak mematuhi Rasulullah. Kemudian contoh lain yg juga diabadikan oleh al-Qur'an adalah kasus Jum'at dimana Rasul sedang berdakwah tapi ditinggal lari oleh sebagian besar para sahabat beliau hanya karena ada perdagangan.
Masalah karakteristik sahabat Nabi, diluar dari apa yang sudah direkam didalam al-Qur'an sebagai catatan sejarah yang tidak pernah ada yang bisa merubahnya, kita hanya tahu dari banyak riwayat yang simpang siur dan kadang saling berseberangan sehingga kemudian dalam lingkaran sunni muncul ilmu hadis yang salah satunya mengkaji sifat dari para perawinya (dalam hal ini termasuk para sahabat dan generasi sesudahnya). Meski demikian, perselisihan terhadap status sahabat yang menjadi para perawi hadis inipun masih juga sering tidak disepakati oleh ahli-ahli hadis itu sendiri dengan argumen yang bermacam-macamnya.
Saya hanya menggunakan data standar yang sudah diberikan oleh al-Qur'an untuk memfilter semua perbedaan yang ada tersebut, bahwa manusia, sedekat apapun mereka dengan Rasulullah, mereka tetaplah manusia yang bisa salah dan bisa benar. Itu pegangan saya. Sehingga beranjak dari sini maka pintu obyektifitas penilaian terhadap kredibelitas mereka akan bisa dipahami secara baik.
Saya sudah banyak membaca kisah-kisah tentang beragam konflik antara para sahabat setelah sepeninggal Rasul, mulai dari kisruh kepemimpinan di Bani Saqifah hingga berbagai perang dijaman kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib yang merupakan cikal bakal perselisihan berkepanjangan diantara akar rumput umat Islam. Dari semua literatur yang saya baca, klaim dari Mbak Whe-en diatas bahwa semua sahabat berbohong itu tidak pernah ada. Bahkan terhadap para sahabat yang membangkang dari Imam Ali (yang dalam hal ini merupakan khalifah dengan jumlah pemberontakan tertinggi secara internal sahabat) beliau justru menghargai mereka walaupun beliau juga disisi lain menyalahkan sikap mereka yang memusuhinya, tetapi tidak ada sikap yang kemudian bisa dijustifikasi bahwa semua sahabat berbohong.
Kita hanya sering fanatik buta terhadap literatur kelompok yang kita anggap dan kita yakini sebagai kelompok terbenar sehingga apapun yang ada diluar itu akan kita pandang dengan sebelah mata dan salah. Jadi buat saya, pintu persatuan Islam masih terbuka. Tidak ada kaitannya dengan maunya Allah itu begini dan begini, sebab orang malingpun boleh jadi mendapatkan keberhasilan bila ia berusaha sungguh-sungguh mewujudkan niat jahatnya itu. Dan kita tentu tidak mengatakan bahwa Allah meridhoi tindakan maling itu sendiri. Sama halnya dengan persatuan umat, bola ada ditangan kita dan itu sudah diarahkan oleh Allah sejak awal sebagaimana dinyatakan-Nya dalam surah Asy-Syuura ayat 13.
[Whe-en]Niatpun hanya ada di dalam hati, bisa saja yang diungkapkan berbeda dengan apa yang tersirat di hati.Jadi melindungi aqidah juga perlu.Karena betapa banyak yang terjebak karena pencitraan.Tidak tahu ikut taklim, tahunya yang diikuti aliran yang berseberangan karena begitu pintarnya mereka mengemas kalimat. menyembunyikan identitas.Contoh kecil saja,Kenyataannya, lebih banyak orang yang tidak bisa menghargai perbedaan, orang yang tidak mau tahlilan dicibir, orang yang tidak mau yasinan dihujat tidak cinta nabi, yang tidak maulidanpun demikian.Kalau mereka mau diterima sebagai pelaku tahlilan, sebagai pelaku yasinan, sebagai pelaku maulidan, kenapa yang tidak melakukan tidak mereka terima? bahkan ada yang mengkafirkan.inilah contoh keegoisan manusia.Inilah realitanya, mereka mau diterima tapi tidak bisa menerima perbedaan.Contoh ekstrimnya lagi,bisakah kita hidup berdampingan dengan orang yang suka meledakkan bom?Mereka bilang itu jihad, padahal jelas2 melanggar perintah Allah.Pasti kita akan khawatir suatu saat kitalah sasaran bom-nyaDemikian dari saya.Cuma membicarakan realitanya saja
Saya hampir jarang berbicara tentang fenomena teroris yang suka meledakkan bom itu. Jujur saya katakan bahwa saya bersimpati terhadap perjuangan dan niat mereka, tetapi kadangkala mereka salah dalam mengaplikasikan cara mereka mewujudkannya. Saya hanya mengambil pelajaran dari kasus kaum Khawarij ketika mereka menentang pemerintahan Imam Ali.
--
Salamun 'ala manittaba al Huda
ARMANSYAH
Salamun 'ala manittaba al Huda
ARMANSYAH
--
Salamun 'ala manittaba al Huda
ARMANSYAH
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment