Wednesday, June 16, 2010

Re: [Milis_Iqra] Sunni-Syiah dalam Naungan Khilafah

Sebuah posting yang sarat dengan kalam-kalam ilahiah yang agung ... terimakasih tambahannya Pak Dang.,

Tanda dalamnya ilmu seseorang adalah kebijakannya bersikap dalam menghadapi semua permasalahan dan perbedaan yang ada diluar dirinya, melihat kenyataan dengan kelapangan dan kebesaran jiwa bahwa memang tidak ada gading yang tidak retak namun mampu menempatkan semua keretakan tersebut dalam sebuah bingkai yang indah : Persatuan langkah dan niat untuk sebuah perjuangan yang lebih besar.

Pemahaman agama yang parsial hanya akan menumbuhkan insan-insan yang menjadikan dirinya sendiri sebagai tolak ukur segala sesuatu, menatap langit dengan apa yang hanya bisa dia lihat dengan matanya saja sehingga bintang ya tampak seperti segi enam, matahari ya panas bersinar, bulan bulat dengan bagian-bagian hitamnya serta bercahaya dikala malam. Namun ia tidak mampu melihat lebih jauh esensi dari kebenaran yang sesungguhnya. Orang semacam ini tidak akan pernah bisa menjadi bijak dan dewasa secara pribadi, selalu manja dengan emosional diri serta kesempitan berpikirnya sehingga lebih mengedepankan perbedaan ketimbang persatuan dan merasa bangga dengannya, persis seperti yang disampaikan oleh kalam-kalam ilahiah yang sudah bapak sampaikan.

Subhanallah.,


2010/6/16 Dang <naoneuy@gmail.com>
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang
satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.
Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka
terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa
bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).
Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu[23:52-54]

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka
(terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung
jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah
(terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada
mereka apa yang telah mereka perbuat[6:159]

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah
atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta
dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah,
yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi
beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang
ada pada golongan mereka.[30:30-32]

Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah
Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan
pertolongan-Nya dan dengan para mu'min,
dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).
Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi,
niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah
telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.[8:62-63]


On 6/16/10, Dang <naoneuy@gmail.com> wrote:
> Assalamu'alaikum,
>
> Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali
> dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan
> antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu
> sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena
> sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti[59:14]
>
> Dari Firman Allah tersebut di atas hendaklah kita umat muslim yang
> beriman dapat mengambil pelajaran.
>
> Yang namanya bersatu adalah :
>
> Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
> janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu
> ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah
> mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah
> orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang
> neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah
> menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk[3:103]
>
> dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).
> Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi,
> niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah
> telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi
> Maha Bijaksana[8:63]
>
>
>
> On 6/16/10, Armansyah <armansyah.skom@gmail.com> wrote:
>> Sunni-Syiah dalam Naungan Khilafah
>>
>> Sumber :
>> http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/10/sunni-syiah-dalam-naungan-khilafah/
>>
>> *Sekilas Tentang Sunni dan Syiah*
>>
>>
>>
>> Salah satu upaya kaum kafir memecah-belah kesatuan dan persatuan umat
>> Islam
>> adalah mengadu domba kaum Muslim melalui isu perbedaan mazhab, aliran
>> kalam,
>> kelompok dan golongan. Melalui agen-agennya, kaum kafir terus menanamkan
>> fanatisme dan sentimen mazhab, kelompok dan golongan agar kaum Muslim
>> sibuk
>> memusuhi saudara-saudaranya sendiri dan melupakan musuh sejati mereka,
>> yakni
>> orang-orang kafir yang terus memerangi Islam dan kaum Muslim siang dan
>> malam. Kaum kafir juga tidak segan-segan membentuk faksi-faksi di tubuh
>> kaum
>> Muslim untuk menimbulkan kesesatan, perselisihan dan permusuhan.
>>
>> Di antara isu sentimen kelompok yang terus dieksploitasi untuk
>> menghancurkan
>> kesatuan kaum Muslim adalah isu Sunni-Syiah. Isu ini secara efektif
>> digunakan oleh Amerika Serikat, pasca invasi di Irak, untuk memecah-belah
>> kekuatan kaum Muslim serta mengalihkan medan pertempuran sebenarnya,
>> yakni
>> berperang melawan tentara Amerika Serikat, ke arah perang antara kelompok
>> Sunni dan Syiah. Amerika Serikat juga mempersenjatai dan mendanai
>> kelompok-kelompok di Irak untuk menimbulkan konflik internal di tubuh
>> kaum
>> Muslim. Dengan cara seperti itu, perlawanan kaum Muslim menjadi lemah,
>> dan
>> eksistensi penjajahan Amerika Serikat di Irak bisa tetap bertahan hingga
>> sekarang.
>>
>> Padahal kaum Sunni dan Syiah di Irak dan juga negeri-negeri Islam yang
>> lain
>> sejak ribuan tahun yang lalu bisa hidup harmonis dan berdampingan satu
>> dengan yang lain. Tidak hanya itu saja, di sepanjang lintasan sejarah
>> Khilafah Islamiyah, kelompok Sunni dan Syiah, mendapatkan perlakuan yang
>> sama, baik di depan hukum maupun politik. Dalam batas-batas tertentu,
>> pemikiran hukum dan kalam Sunni dan Syiah berkembang dan diakomodasi
>> dengan
>> baik oleh penguasa-penguasa Islam pada saat itu. Hal ini bisa dimengerti,
>> karena Negara Khilafah adalah institusi politik yang bertugas mengatur
>> urusan rakyat dengan syariah Islam, tanpa memandang lagi latar belakang
>> agama, mazhab, golongan, suku, ras dan lain sebagainya; dan menyebarkan
>> risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Dalam
>> konteks *ri'ayah*, Negara Khilafah berdiri di atas semua kelompok,
>> golongan
>> dan agama serta memperlakukan kelompok-kelompok tersebut berdasarkan
>> ketentuan-ketentuan syariah yang dilegalisasinya. Negara Khilafah
>> bukanlah
>> negara milik kelompok tertentu, mazhab tertentu, atau untuk agama
>> tertentu; tetapi
>> ia adalah institusi yang menaungi dan mengatur seluruh entitas yang ada
>> di
>> dalam Daulah Khilafah Islamiyah tanpa terkecuali, berdasarkan syariah
>> Islam.
>>
>> Adapun konflik-konflik bersenjata yang terjadi pada masa Kekhilafahan
>> jarang
>> sekali disebabkan karena faktor perbedaan pendapat dalam bidang fikih,
>> mazhab, maupun kelompok; tetapi lebih diakibatkan karena intrik-intrik
>> politik di pusat-pusat kekuasaan, *riddah *dan *bughat*.
>>
>>
>> *Perkembangan Sunni dan Syiah*
>>
>>  *1. Syiah.*
>>
>> Kemunculan Sunni dan Syiah dapat ditelusuri dari intrik politik seputar
>> siapa yang paling berhak menggantikan kedudukan Nabi saw. sebagai kepala
>> Negara. Pada awalnya, persoalan ini tidak pernah menyulut pertikaian di
>> antara para Sahabat, kecuali hanya percikan-percikan belaka. Bahkan para
>> Sahabat tidak pernah menjadikan masalah tersebut sebagai alat untuk
>> menikam
>> maupun menyerang Sahabat yang lain. Hingga masa Khalifah Ali bin Abi
>> Thalib
>> pun, persoalan siapa yang paling berhak menjadi khalifah atau imam,
>> bukanlah
>> penyebab yang menyulut terjadinya Perang Jamal maupun Perang Shiffin.
>> Namun,
>> persoalan ini kemudian dieksploitasi sekelompok orang untuk memecah belah
>> kesatuan dan persatuan kaum Muslim.
>>
>> Sumber-sumber terpercaya dari kalangan Sunni dan Syiah sepakat bahwa
>> pihak
>> yang menyebarkan benih-benih fitnah di kalangan kaum Muslim adalah orang
>> Yahudi yang berpura-pura masuk Islam, yakni Abdullah bin Saba'1. Dialah
>> orang pertama yang menyebarkan pemikiran-pemikiran beracun, seperti
>> kedustaan atas nama Ahlul Bait; pendiskreditan terhadap Abu Bakar, Umar
>> dan
>> Utsman ra.2; pengkultusan terhadap Ali dan seruan untuk hanya berpihak
>> kepadanya; penentangan terhadap Khalifah Utsman bin Affan ra.3; dan lain
>> sebagainya.
>>
>> Menurut Dr. Amir an-Najjar, Abdullah bin Saba' jualah yang memiliki andil
>> dalam mengobarkan Perang Jamal dan Perang Shiffin. Propaganda-propaganda
>> sesat Abdullah bin Saba' menemukan momentumnya setelah majelis
>> *tahkîm*(Ramadhan, 37 H/657 Masehi) gagal menyelesaikan pertikaian
>> antara Khalifah
>> Ali ra. dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Kegagalan ini menyebabkan lahirnya
>> kelompok Syiah (pendukung Ali) dan Khawarij, kelompok yang memisahkan
>> diri
>> dari kelompok 'Ali maupun Muawiyah.4
>>
>> Di kemudian hari, perselisihan tersebut tidak hanya berpengaruh dalam
>> membentuk sikap politik kelompok Syiah dan Khawarij, tetapi juga
>> memberikan
>> andil dalam pembentukan pemikiran-pemikiran keagamaan mereka. Intrik ini
>> telah bergeser sedemikian jauh dari persoalan politik ke arah persoalan
>> ideologis. Lahirlah kelompok-kelompok yang mengembangkan ajaran-ajaran
>> ekstrem yang tidak pernah dikenal oleh kaum Muslim sebelumnya.
>>
>> Kelompok Syiah terus berkembang dan tetap eksis hingga sekarang. Yang
>> paling
>> menonjol adalah Syiah Itsnai 'Asyarah (Syiah 12). Ada pula kelompok Syiah
>> Imamiyah (Syiah 6), Syiah Zaidiyah, Kaisaniyah, Ismailiyah, Fathimiyah
>> dan
>> lain sebagainya. Hampir seluruh kelompok Syiah menyakini sepenuhnya bahwa
>> hak Imamah telah ditetapkan oleh nash syariah kepada Ali ra. dan
>> keturunannya. Hanya saja, di antara kelompok-kelompok Syiah tersebut
>> terdapat perbedaan pendapat dalam menetapkan siapa keturunan Ali ra. yang
>> berhak memegang tampuk Imamah. Dari sisi fikih dan akidah, kelompok
>> Zaidiyah
>> sangat dekat dengan Ahlus Sunnah. Oleh karena itu, karya ulama Zaidiyah
>> juga
>> sering dijadikan rujukan kalangan Sunni. Kelompok Zaidiyah juga tidak
>> sampai
>> mencela atau mencerca para Sahabat besar seperti halnya kelompok-kelompok
>> Syiah lainnya. Kelompok Zaidiyyah memperlakukan para Sahabat sebagaimana
>> kelompok Sunni.
>>
>>  *2. Sunni.*
>>
>> Terkait dengan kelompok Sunni, keragaman pendapat dalam kelompok ini di
>> bidang fikih, ushul fikih, kalam dan bidang-bidang lain juga sangatlah
>> kaya.
>> Di bidang fikih, berkembang mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali,
>> Zhahiri,
>> dan lain sebagainya. Di bidang ilmu tauhid berkembang pemikiran Imam
>> Asy'ari, Maturidi, Thahawi, Bazdawi, Asnawi, Isyfiraini, al-Ghazali, dan
>> lain sebagainya. Walaupun dalam banyak persoalan mereka berbeda pendapat,
>> para ulama Sunni telah menggariskan pokok-pokok keimanan yang tidak boleh
>> diselisihi oleh kaum Muslim; yakni iman kepada Allah,
>> malaikat-malaikat-Nya,
>> kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Kiamat serta qadla dan qadar.
>> Pandangan
>> mereka terhadap persoalan Imamah atau Khilafah juga beragam. Hanya saja,
>> seluruh ulama Sunni mengakui legalitas tiga khalifah sebelum Ali ra.
>> serta
>> mengakui keadilan para Sahabat Nabi saw. dan hak Kekhilafahan tidak hanya
>> di
>> tangan Ali ra. dan keturunannya saja meski sebagian mazhab Syafii
>> berpandangan bahwa khalifah harus dijabat oleh suku Quraisy.
>>
>> Dalam konteks kalam, pandangan Imam Asy'ari dalam menyikapi ayat-ayat *
>> shifat* berbeda dengan pandangan Imam Maturidi. Selain itu, pandangan dan
>> perlakuan ulama-ulama Sunni terhadap Ahlul Bait selalu bersandarkan pada
>> wasiat dan pesan Nabi saw. Dalam pandangan ulama Sunni, Ahlul Bait
>> tidaklah
>> terjaga dari dosa alias *ma'shûm* sebagaimana Rasulullah saw. Hanya saja,
>> Ahlul Bait mendapatkan kedudukan dan tempat yang sangat mulia di sisi
>> kelompok Sunni, sebagaimana para Sahabat besar Nabi saw. yang lain.
>>
>> Dalam lintasan sejarahnya yang panjang, keragaman pendapat yang terdapat
>> pada kelompok Sunni dan Syiah pada batas-batas tertentu tidak pernah
>> menyulut terjadinya konflik yang pelik, kecuali setelah isu Sunni-Syiah
>> ini
>> dipolitisasi sedemikian rupa untuk menimbulkan perpecahan di
>> tengah-tengah
>> kaum Muslim serta untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Namun, dari
>> sisi
>> pemikiran hukum maupun politik, kalangan Sunni dan Syiah sudah terbiasa
>> dengan perbedaan pendapat. Kedua kelompok ini bisa hidup berdampingan dan
>> saling menghormati satu sama lain. Kenyataan ini bisa dilihat dari sikap
>> para ulama kalangan Sunni terhadap ulama Syiah dan sebaliknya. Ulama-ulama
>> *
>> mu'tabar* dari kalangan Sunni menempatkan Ahlul Bait* *[yang oleh
>> kalangan
>> Syiah dijadikan sebagai panutan dan pemimpin mereka] pada kedudukan yang
>> tinggi dan mulia.
>>
>> Ibnu Syihab az-Zuhri (50-123 H), misalnya, seorang ulama besar dari
>> kalangan
>> Sunni, memberikan komentar terhadap Ali Zainal Abidin dengan ungkapan,
>> "Saya
>> belum menyaksikan seseorang yang lebih ahli dalam bidang hukum daripada
>> Ali
>> bin al-Husain. Hanya saja, beliau ini sedikit berhadis."
>>
>> Ibnu Musayyab, ulama besar Sunni yang lain melukiskan kepribadian Ali bin
>> al-Husain, "Saya belum menyaksikan orang yang lebih *wara'* daripada
>> beliau."
>>
>> Simak juga bagaimana penilaian Muhammad bin Ali atau Abu Ja'far al-Baqir
>> (w.
>> 133 H) terhadap Abdullah bin Umar (w. 73 H), "Di antara para Sahabat
>> Rasulullah, tak seorang pun jika mendengarkan sabda Rasulullah saw.
>> bersikap
>> lebih hati-hati untuk tidak menambahi atau mengurangi daripada Abdullah
>> bin
>> Umar." (Ibnu Saad, *Ath-Thabaqât*, II/125).
>>
>> Di sisi lain, Imam Ja'far bin ash-Shadiq pernah menjadi guru Imam Abu
>> Hanifah
>> (w. 150 H) dan Imam Malik bin Anas ra (w. 179 H).
>>
>> Dari kalangan Syiah Zaidiyah, kaum Muslim juga mengenal Zaid bin Ali ra.
>> Pandangan-pandangan beliau mengenai syariah, hadis dan para Sahabat besar
>> tidak ada bedanya dengan pandangan kaum Sunni, kecuali dalam bidang
>> Imamah*
>> *(kepemimpinan). Zaid bin Ali (w. 122 H) lahir di Madinah al-Munawarah.
>> Beliau
>> banyak belajar dari ulama-ulama Sunni terkemuka seperti Said ibn
>> Musayyab,
>> Abu Bakar bin Abdurrahman, Urwah bin Zubair, Ubaidillah bin Abdillah dan
>> ulama-ulama besar Madinah lainnya.
>>
>> Bukti lain yang menunjukkan bahwa perbedaan pendapat di kalangan Sunni
>> dan
>> Syiah adalah kaum Muslim dari kalangan Sunni dan Syiah yang hidup di
>> daerah
>> Kufah, Yaman dan negeri-negeri Islam lain; mereka bisa hidup berdampingan
>> dengan damai dan harmonis. Adanya konflik-konflik bersenjata yang terjadi
>> di
>> dalam sejarah Kekhilafahan lebih diakibatkan karena alasan-alasan yang
>> bersifat politis, semacam perebutan kekuasaan dan intrik-intrik politik.
>>
>>
>> *Kebijakan Khilafah Mempersatukan Sunni-Syiah*
>>
>> Pada dasarnya, untuk menciptakan stabilitas negara dan persatuan umat
>> Islam
>> yang sangat mejemuk dan beragam tersebut, sikap resmi Negara Khilafah
>> dapat
>> dijabarkan sebagai berikut;**
>>
>> 1. Mengakomodasi pendapat dan pendirian mereka selama pendapat tersebut
>> belum dianggap menyimpang dari akidah dan syariah Islam.
>> Kelompok-kelompok
>> seperti ini tetap dianggap sebagai bagian dari kaum Muslim dan
>> diperlakukan
>> layaknya kaum Mukmin. Mereka diberi hak untuk menyebarkan pendapat dan
>> pendiriannya di wilayah Khilafah Islamiah tanpa ada larangan sedikit
>> pun. Mereka
>> juga diberi hak untuk mengakses jabatan-jabatan penting Negara Khilafah.
>>
>> 2. Kelompok-kelompok yang telah menyimpang dari akidah Islam, atau
>> terjatuh
>> pada penakwilan-penakwilan yang sesat. Mereka dihukumi sebagai kelompok
>> yang
>> telah keluar dari Islam (murtad). Kebijakan Negara Khilafah dalam masalah
>> ini sangat jelas: menasihati mereka agar kembali pada jalan yang lurus,
>> menjelaskan kesesatan pendirian mereka dan memberi tenggat waktu untuk
>> bertobat. Jika mereka menolak dan tetap dalam pendiriannya barulah mereka
>> diperangi.
>>
>> 3. Kelompok-kelompok pemikiran maupun politik yang membangkang
>> (*bughat*),
>> melakukan tindak kerusakan (*hirâbah*), memecah-belah persatuan dan
>> kesatuan
>> jamaah kaum Muslim, atau melakukan persekongkolan dengan kafir *harbi*.
>> Mereka ini akan ditindak dan diperlakukan sesuai dengan ketentuan syariah
>> Islam atas pelanggaran yang mereka lakukan.
>>
>> 4. Selain menegakkan sanksi yang tegas atas kelompok-kelompok yang hendak
>> merusak kesatuan kaum Muslim dan instabilitas negara, Khilafah juga
>> melakukan upaya-upaya edukasi yang terus-menerus mengenai pentingnya
>> menjaga
>> kesatuan dan persatuan kaum Muslim serta meninggalkan fanatisme kelompok
>> yang berlebihan.
>>
>> Kebijakan-kebijakan di atas telah dipraktikkan oleh para khalifah pada
>> masa
>> keemasan Islam. Misalnya, terhadap kelompok Khawarij, Khalifah Ali bin
>> Abi
>> Thalib ra. tidak melarang mereka shalat di masjid. Mereka juga diberi
>> bagian
>> rampasan perang sebagaimana kaum Muslim yang lain. Beliau juga tidak
>> melancarkan peperangan terhadap mereka, kecuali jika mereka menyerang
>> terlebih dulu. Ketika kelompok Khawarij kalah dalam peperangan, mereka
>> tidak
>> dikejar-kejar untuk dibinasakan. Mereka dibiarkan kembali ke rumah
>> masing-masing, mendapatkan perlakuan layaknya kaum Muslim dan tetap
>> mendapatkan keamanan dari beliau.5
>>
>> Sikap seperti ini juga ditempuh oleh Umar bin Abdul Aziz terhadap
>> kelompok
>> Khawarij pada masanya. Beliau berdiskusi dengan mereka untuk memahamkan
>> dan
>> menasihati mereka agar kembali kepada jalan yang benar. Saat mereka
>> menolak
>> serta melakukan pembangkangan barulah beliau mengirim pasukan perang.6
>>
>> Pada masa Kekhilafahan Bani Umayah, tepatnya pada masa pemerintahan
>> Mughirah
>> bin Syu'bah, beliau tidak menggunakan kekuatan militer karena adanya
>> perbedaan pendapat di tengah-tengah masyarakat. Jika ada orang berkata
>> kepadanya bahwa seseorang beraliran Syiah atau Khawarij, ia pun menjawab,
>> "Allah membiarkan mereka saling berbeda dan Allah pun akan menghukumi
>> para
>> hambanya yang bersalah."7 Namun, ketika kelompok Khawarij bergerak di
>> Kufah,
>> membuat kerusakan dan mengobarkan pembangkangan, beliau pun bersiap
>> memerangi mereka.8
>>
>> Kebijakan serupa juga ditempuh oleh para khalifah dari Bani Abbasiyah.
>> Khalifah
>> al-Muktafi pernah berkirim surat kepada Abu Said al-Janabi (seorang
>> panglima
>> perang dari Syiah Qaramithah) yang berisi penjelasan mengenai kesesatan
>> kelompok mereka dan ajakan untuk menghilangkan perpecahan di antara umat
>> Islam. Khalifah Malik Syah juga pernah mengirim surat kepada kelompok
>> Ismailiyah untuk mengajak mereka kembali pada ajaran Islam yang benar.
>>
>> Akhirnya, dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesatuan
>> dan
>> persatuan kaum Muslim hanya bisa ditegakkan secara hakiki jika di
>> tengah-tengah mereka ada khalifah (Khilafah) yang mengatur urusan mereka
>> dengan syariah Islam. *Wallâhu a'lam bi ash-shawâb.* *[Fathiy Syamsuddin
>> Ramadhan An-Nawiy]*
>>
>>  *Catatan kaki: *
>>
>> 1 Untuk literatur Syiah, bisa dibaca karya-karya Imam al-Kasyi,
>> an-Nubakhti
>> dan lain-lain. Untuk literatur Sunni dapat dibaca karya Imam ath-Thabari
>> dan
>> lain sebagainya. Lihat: Imam al-Kasyi, *Rijâl al-Kasyi, *hlm. 100-101;
>> Imam
>> atth-Thabari, *Târîkh al-Mulûk wa al-Umam, *V/90.
>>
>> 2 Lihat: an-Nubakhti, *Firqah aasy-Syî'ah, *hlm. 43-44, Cet. Haidariyyah,
>> Najaf, Iraq, 1959.
>>
>> 3 Tarikh Syi'ah, *Rawdhah ash-Shafâ, *II/292.
>>
>> 4 Dr Amir An Najjar, *Al-Khawârij: 'Aqîdat[an] wa Fikr[an] wa
>> Falsafat[an]*(Aliran Khawarij; Mengungkap Akar Perselisihan Umat
>> [Terjemahan]), Penerbit
>> Lentera, 1993, Jakarta.
>>
>> 5 Lihat: Ibnu Atsir, *Al-Kâmil, *III/169 dan 173; Ibnu Taimiyah, *Majmû'
>> al-Fatawa, *XXVIII/468.
>>
>> 6 Lihat diskusi antara Umar bin Abdul Aziz dengan mereka dalam Ibnu Atsir,
>> *
>> Al-Kâmil*, IV/155-156. Pada masa Abu Bakar ra., beliau bertindak tegas
>> terhadap kelompok yang menolak pensyariatan zakat serta kaum murtad yang
>> bermunculan di jazirah Arab. Sebagaimana ketentuan syariah, orang-orang
>> yang
>> murtad dari Islam harus dinasehati dan diberi tenggat waktu untuk
>> bertobat
>> (kembali pada Islam); mereka baru diperangi jika setelah itu mereka masih
>> tetap membangkang.
>>
>> 7 Ibnu Atsir, *Al-Kâmil, *III/210.
>>
>> 8 *Ibid*, III/212.
>>
>>
>> --
>> Salamun 'ala manittaba al Huda
>>
>>
>>
>> ARMANSYAH
>>
>> --
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>
>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>
>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>>   Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>>   Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>>      Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
 Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
 Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
    Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-



--
Salamun 'ala manittaba al Huda



ARMANSYAH

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment